Tags

, ,

“…apakah alumni ITB akan sama dengan masyarakat pada umumnya yang memilih berdasarkan ketokohan, dan bukan kapabilitas dan program-program yang diajukan? “

—–

Jadi, beberapa hari belakangan memang ITB menjadi sorotan di banyak media nasional, karena ada kegiatan demonstrasi disana yang terjadi saat Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta, hendak masuk ke ITB dan menjadi pembicara dalam kuliah umum di ITB, dengan alasan mahasiswa ITB menolak politisas kampus. Apapun artinya itu.

Hal ini menjadi sorotan karena memberi kesan bahwa mahasiswa ITB ‘menolak’ Joko Widodo yang saat ini telah dinyatakan oleh PDI-P untuk menjadi calon presiden dari partai tersebut. Secara teknis, Jokowi belum jadi calon presiden, namun bakal calon, karena pendaftaran calon presiden sendiri masih pada tanggal 18 – 20 Mei 2014. Namun, pendeklarasian Jokowi sebagai calon yang bakal diajukan ini menambah 1 orang lagi dalam daftar tokoh yang akan diajukan sebagai calon presiden untuk pemilu presiden pada tanggal 9 Juli nanti, disamping sebut saja Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, Anis Matta, Dahlan Iskan, Anies Baswedan, bahkan Rhoma Irama.Kesemua nama diatas, secara teknis, bukanlah calon presiden, karena sekali lagi, pendaftaran calon presiden untuk ikut pemilu itu belum dibuka.Kembali ke pembahasan.

Beberapa hari setelah peristiwa demonstrasi di ITB, tersebarlah foto selebaran mengenai kegiatan yang akan diadakan oleh GAMAIS ITB.Selebaran ini menunjukkan kegiatan yang akan diadakan oleh GAMAIS ITB, pada bulan Mei 2014 yang akan mengundang beberapa pembicara dari ulama maupun tokoh politik, seperti Anis Matta, Yusril Iza Mahendra, Hatta Rajasa, Mahfud MD, dan beberapa tokoh lainnya. Beberapa nama yang disebut akan diundang oleh GAMAIS ITB ini memang telah beberapa kali diberitakan akan diajukan menjadi calon presiden oleh berbagai pihak. Dan melihat bahwa Jokowi ‘ditolak’ oleh ITB, namun Anis Matta, Hatta Rajasa, dan tokoh lain malah diundang, sekali lagi, media nasional dan media sosial bereaksi terhadap kejadian ini. Mahasiswa ITB dinilai menerapkan standard ganda dalam hal penolakan politisasi kampus.

Image

Di tempat lain, di waktu yang hampir bersamaan, sebagian orang yang merupakan alumni ITB, berkumpul dan mendeklarasikan bahwa mereka mendukung Jokowi untuk Indonesia baru. Dalam hal ini tentu saja saya berasumsi bahwa dukungan mereka adalah agar Jokowi terpilih sebagai presiden nantinya. Hal ini dalam pandangan pribadi saya, terkesan menunjukkan bahwa ‘alumni ITB’ mendukung Jokowi setelah beberapa hari sebelumnya mahasiswa ITB ‘menolak’ Jokowi.

Terlepas dari kesan yang ditimbulkan, beberapa jam yang lalu, saya entah kenapa secara otomatis masuk dalam sebuah grup yang bernama ‘Komunitas Alumni ITB untuk Jokowi’. Bukan diundang, tapi tergabung ke dalam grup, karena ditambahkan oleh salah seorang anggota grup tersebut.

Mohon maaf, tapi hal itu bagi saya terkesan sebagai pemaksaan. Saya dipaksa untuk bergabung ke dalam grup tersebut, tanpa diundang dan tanpa konfirmasi. Sekali saya masuk, saya langsung keluar dari grup tersebut.
Tidak ada yang dirugikan.
Tepat 15 menit kemudian, notifikasi berbunyi, dan saya dinyatakan telah masuk kembali di dalam grup tersebut.
Hah!?
Sekali lagi saya keluar, dan kali ini saya memastikan untuk memilih agar anggota grup tidak dapat menambahkan saya untuk masuk ke dalam grup tersebut.

Hal yang ingin saya sampaikan disini adalah, apa sebenarnya keinginan dan tujuan dari grup itu?
Menunjukkan bahwa alumni ITB (secara keseluruhan) mendukung Jokowi menjadi presiden?
Mengajak (atau dalam hal ini memasukkan begitu saja) seluruh alumni ITB di Facebook untuk mendukung Jokowi menjadi presiden? Atau apa?

Maaf, pada saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta, saya cukup tertarik melihat gaya kampanye yang digunakan oleh Jokowi pada saat itu, dengan Jasmev-nya dan lain sebagainya. Saya juga melihat bahwa dia mempersiapkan program-program nyata yang bisa diterapkan di Jakarta. Sebut saja kampung deret, revitalisasi waduk dan taman, dan integrasi busway. Program yang diajukan pada saat kampanye, yang memang digunakan sebagai bahan kampanye, dan membuat saya melihat bahwa Jokowi adalah orang dengan pemikiran yang lumayan maju dan berfokus untuk kemajuan DKI Jakarta.

Namun apa yang bisa dilihat saat ini? Jokowi dimajukan oleh PDI-P untuk menjadi calon presiden. Lalu? Jokowi tetap menjadi Gubernur DKI Jakarta. Saat ditanya apa visi misinya, Jokowi menjawab bahwa dia belum mau menjabarkan visi misinya agar tidak dicontek oleh calon lain.
Hallo!?
Belum ada 3 bulan sejak Jokowi diajukan sebagai calon oleh PDI-P, dan kurang dari 1 bulan lagi pendaftaran calon presiden.Bagaimana dengan visi misi Jokowi? Beliau tetap menjadi Gubernur DKI Jakarta, maka kapan beliau dapat menyusun visi misi untuk maju menjadi calon presiden? Apakah bukan beliau yang menyusun? Jadi siapa? Partai?

Hmmmm….

Hingga saat ini, belum ada terdengar kabar mengenai visi misi maupun program yang akan diajukan Jokowi apabila dirinya memang betul akan mendaftarkan diri sebagai calon presiden nanti. Namun, hebatnya sudah ada begitu banyak kelompok-kelompok yang muncul di masyarakat maupun di media sosial yang menyatakan mendukung Joko Widodo sebagai calon presiden.

Sebenarnya, apa yang mereka dukung? Saat Jokowi belum mengajukan visi misi maupun program, apa yang bisa kita cermati? Dan apakah alumni ITB akan sama dengan masyarakat pada umumnya yang memilih berdasarkan ketokohan, dan bukan kapabilitas dan program-program yang diajukan?

Maaf, saya bukan simpatisan Jokowi, dan saya juga bukan pembenci Jokowi.
Saya hanya seorang alumni ITB biasa dalam hal ini.
Dan saya hanya seorang rakyat jelata.
Dan jikalaupun saya mendukung Jokowi, saya tidak mau dicap sebagai ‘Alumni ITB yang mendukung Jokowi’.
Saya lebih baik menjadi rakyat jelata yang mendukung Jokowi.
Namun, untuk saat ini, ada satu posisi yang pas untuk saya.

Aku Alumni ITB, Tidak Pilih Jokowi.

Image