Tags

,

Yap.

Kembali lagi bersama saya yang entah siapa, bahas entah apa, dan entah maunya apa. Sekarang mau dibahas tentang polisi di kota Bandung.

Jadi beberapa jam yang lalu dapat mention dari teman yang seperti ini:

Image Polisi #BDG buat gw 7 thn ini: Ga ngizinin Persib main, ga bs ngatur lalin, & bikin surat resmi pak Comic Sans

Yang dikatakan teman saya itu benar, terutama yang terakhir, karena memang saya dengan dia bersama-sama meminta surat resmi dari kepolisian, dan saat kami terima, jenis font yang digunakan oleh beliau-beliau itu adalah Comic Sans, dimana font tersebut bisa dibilang sebagai salah satu font dengan sifat paling kekanak-kanakan dan tidak dewasa yang pernah dibuat oleh manusia. Dan biasanya digunakan untuk di komik. Dan kami menemukannya di surat resmi dari kepolisian kota Bandung. #BandungJuara

Nah, belakangan ini yang hangat juga adalah jam malam yang diberlakukan oleh kepolisian di kota Bandung. Menurut walikota sih, tidak ada peraturan walikota yang mengharuskan tempat hiburan malam di kota Bandung untuk tutup jam 12 malam. Itu hanya ‘gerakan’, ‘imbauan’ atau apapun namanya itu, dari kepolisian Jawa Barat kepada tempat hiburan malam di kota Bandung. Tapi tanpa dasar hukum yang jelas! Dan anggota kepolisian menegakkan ‘aturan’ yang tidak jelas dasarnya ini dengan agresif, dan memaksa!

Kok bisa!?

Mari kita mundur beberapa bulan sebelumnya. Tepatnya ke beberapa saat yang lalu dimana jam malam di kota Bandung itu belum diberlakukan. Mari kita melihat alasan mengapa ada yang namanya jam malam di kota Bandung.

Jadi, pada awal Januari 2014, ada berita bahwa salah seorang petinggi kepolisian mendapat luka karena benda tajam, akibat melerai perkelahian di suatu klub malam di kota Bandung. Dari situ, ada rapat di kepolisian (entah ikut pihak pemerintah kota atau tidak), dan keputusannya adalah seluruh tempat hiburan malam di kota Bandung harus tutup jam 12 malam! Tanpa terkecuali.

Maafkan jika saya berpikir bahwa hal ini adalah salah satu hal yang paling tolol, namun beginilah kesimpulan yang bisa saya tarik. Kepolisian menutup tempat hiburan malam agar tidak terjadi tindak kekerasan lagi? Atau apa? Bukankah memang sudah tugas pihak kepolisian untuk menjaga keamanan dimanapun itu? Terus kenapa tempat itu ditutup? Karena kepolisian malas menjaga tempat itu? Maaf, cuma itu kesimpulan yang bisa saya sampaikan.

Kepolisian malas untuk menjaga keamanan dan ketertiban di berbagai wilayah, sehingga mereka mengambil jalan pintas untuk sekalian menutup tempat tersebut jam 12 malam.

Sama seperti polisi yang menghalau lalu lintas di beberapa titik di kota Bandung dengan pembatas jalan, karena mereka malas untuk mengatur arus lalu lintas secara layak.

Sama seperti polisi yang tidak memberikan izin bagi Persib untuk main karena, karena apa? Dikhawatirkan akan terjadi bentrokan? Jadi daripada mengamankan jalannya pertandingan, mending pertandingan ditiadakan sekalian. Polisi tidak perlu susah-susah.

 

Memang polisi Bandung itu Juara!