Tags

, , , , ,

PKL = pedagang kaki lima.
Merupakan jenis pedagang yang menjajakan barang dagangannya di pinggiran jalan, dan biasanya di trotoar, yang ukurannya kira-kira 5 kaki (sekitar 150cm), makanya itu disebut pedagang kaki lima.

Mungkin.

Pedagang kaki lima di Jakarta. (sumber: wikimedia.org)

PKL bukan hal baru di Indonesia sebenarnya.
Hampir di seluruh kota besar yang pernah saya datangi di Indonesia ini ada yang namanya pedagang kaki lima. Barang dagangannya pun beraneka ragam, namun biasanya yang banyak diperdagangkan adalah jenis makanan, minuman, maupun cemilan-cemilan lainnya yang saya sendiri sedikit ragu sebaiknya masuk dalam kategori makanan atau minuman. Intinya, budaya makan dan jajan orang Indonesia itu cukup besar dan beraneka ragam dengan melihat banyaknya pedagang kaki lima ini.

Pedagang kaki lima, dalam menjual dagangannya memang cukup terkenal dengan rasanya yang cukup enak, bervariasi, dan harganya yang cukup terjangkau. Dan karena dijajakan di pinggir jalan, siapapun bisa datang ke sana tanpa merasa segan sedikitpun. Hampir seluruh kalangan masyarakat Indonesia pernah makan di pedagang kaki lima minimal sekali dalam hidupnya sebagai manusia Indonesia.

Nah, posisi berjualan mereka yang di trotoar atau tempat pejalan kaki inilah yang sebenarnya menjadi masalah yang dibahas beberapa hari ini di dunia maya, khususnya di Twitter. Khususnya di Bandung. Sampai ada tersebar di dunia maya (atau mungkin dunia nyata juga) hal yang namanya ‘Bandung bebas PKL’. Karena posisi mereka yang berjualan di trotoar, dan terkadang menutupi sebagian badan jalan juga, sehingga masyarakat merasa cukup resah dengan keadaan ini. Sepertinya karena kelihatannya tidak rapi dan juga cukup mengganggu lalu lintas.

Saat ini saya tidak mau membahas tentang penyebab akibat dan segala hal yang berkaitan dengan pedagang kaki lima di kota Bandung ini, namun saya hendak memberi sedikit gambaran tentang pedagang kaki lima dan sejenisnya di tempat lain di luar kota Bandung.

Yang pertama di Medan. Saya mengambil kota Medan sebagai contoh karena saya berasal asli dari Medan dan saya sangat menyukai kuliner kota Medan, terutama jajanan kaki lima yang ditawarkan kota tersebut. Sebut saja kawasan Kesawan Square (sekarang sudah ga ada), Pagaruyung, dan food court Jalan Pandu. Ketiga kawasan tersebut adalah kawasan pedagang kaki lima yang khusus menjual makanan dan dikelola oleh Pemerintah Kota Medan dan dibina oleh Bank Sumut (kayaknya ya, soalnya ada logonya disana. sponsor mungkin). Orang Medan sangat suka jajan dan makan di luar, sehingga sejak beberapa puluh tahun yang lalu, Pemerintah Kota Medan sudah menciptakan kawasan-kawasan khusus untuk pedagang kaki lima berjualan.

Selanjutnya di Yogyakarta. Mungkin hanya pada satu jalan khusus saja ya. Di Malioboro. Siapa sih yang tidak tahu jalan Malioboro di Yogyakarta? Dan salah satu tujuan orang kesana antara lain adalah untuk makan lesehan di pedagang kaki lima yang memenuhi hampir seluruh pinggir jalan Malioboro. Iya ga sih?

Lesehan (open-air streetside restaurants), Jal...

Lesehan (open-air streetside restaurants), Jalan Malioboro, Yogyakarta. 日本語: ジョグジャカルタの繁華街マリオボロ通り(Jalan Malioboro)で地面にマット広げた屋台のレセハン(lesehan)。 (Photo credit: Wikipedia)

Itu untuk di Indonesia. Untuk di luar negeri? Hmmm… Saya tidak tahu secara khusus tentang kota-kota tertentu yang menyediakan tempat khusus untuk pedagang kaki lima untuk berjualan, namun…saya juga tidak pernah mendengar ada suat kota yang mencanangkan untuk membersihkan kota tersebut dari pedagang kaki lima. Tidak pernah.

Yang ada saya lihat belakangan ini adalah, berbagai tayangan mengenai pedagang kaki lima, terutama yang menjual makanan, yang menjajakan makannya di berbagai pelosok di dunia. Di National Geographic Adventure contohnya ada Eat Street (http://natgeotv.com/asia/eat-street-s3), sama Street Food Around the World (http://natgeotv.com/asia/streetfoodaroundtheworld). Bahkan di Singapore pada bulan Juni yang lalu ada namanya World Streetfood Congress (http://www.wsfcongress.com/index.aspx). Ketiga hal itu menunjukkan bahwa di luar negeri sana (di luar Bandung sih setidaknya), pedagang kaki lima memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat.

Saya sih suka makan di pedagang kaki lima. Saya juga suka lalu lintas yang lancar. Saya suka naik transportasi publik yang layak yang dikelola oleh pemerintah kota, dan bukannya transportasi publik yang suka ngetem dan menaik-turunkan penumpang sembarangan. Dan saya yakin semuanya itu bisa ada saling berdampingan tanpa perlu menghilangkan salah satunya.

 

 

Bandung bebas PKL?

Meh!