Tags

, , , ,

Pada suatu ketika, saya pernah mendengar suatu perkataan seperti ini, ‘kebesaran suatu negara dapat dilihat dari kebesaran negarawannya‘, atau sejenisnya lah. Saya ga terlalu ingat tepatnya seperti apa.

Namun, karena saya tidak begitu tahu apa apa makna dari negarawan dan kurang begitu paham tentang penilaian kebesaran si negarawan tersebut, maka saya tidak akan membahas kehidupan bermasyarakat dan bernegara ditilik dari negarawannya. Gak mampu saya. Saya bukan ‘pakar’ politik dan pemerintahan, seperti yang sering muncul di televisi nasional Indonesia untuk dimintai pendapat atas suatu isu politik.

Sebagai masyarakat awam Indonesia, maka saya akan membahas melalui sudut pandang masyarakat awam. Saya akan membahas mengenai hal yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat awam. Saya akan membahas mengenai moda transportasi, dan hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, lokal, nasional, dan internasional.

Mari kita mulai membahas dari skala besar terlebih dahulu. Skala negara, dimulai dari internasional.

  1. Jepang
    Shinkansen (新幹線) adalah nama jaringan kereta api super cepat Jepang (sering disebut kereta api peluru), dengan rekor kecepatan yang pernah tercatat yaitu 581 km/jam (sekitar 361 mil/jam). Pertama kali mulai beroperasi pada tahun 1964, saat ini telah ada 6 jalur Shinkansen, dan mengangkut sekitar 350 juta orang penumpang setiap tahunnya.
    Selain terkenal karena kecepatannya, Shinkansen juga cukup terkenal karena ketepatan waktunya. Pada tahun 2012, secara keseluruhan rata-rata keterlambatan kedatangan/keberangkatan Shinkansen adalah 36 detik. Dan rekor paling tepat waktu adalah pada tahun 1997 dengan rata-rata keterlambatan 18 detik.
    Di dalam stasiun kereta api di Jepang juga masyarakatnya sangat tertib dalam mengantri, dan tidak ada yang saling menyerobot (kayaknya). Bahkan di dalam kereta api pun, menelepon dianggap tidak sopan karena menggangu ketenangan di sekitar.

    Karakteristik bertransportasi ini bisa dijadikan cerminan kehidupan berbangsa dan bernegara. Transportasi yang tepat waktu, teratur, sistem yang baik, teknologi tinggi, dan di dalamnya pun tenang dan ‘berbudaya’. Itulah karakteristik transportasi umum Jepang. Itulah karakteristik Jepang.

    Shinkansen

  2. Amerika Serikat
    Sebenarnya tidak ada moda transportasi yang sangat spesial dan khusus yang hanya ada di Amerika dan menjadi ciri khas di Amerika. Namun saya akan tetap membahasnya dan maksa supaya cocok. Gapapa lah ya. Hohoho.
    Salah satu moda transportasi yang cukup sering saya lihat di Amerika Serikat (karena sering ada di film) adalah kereta bawah tanah, atau juga dikenal dengan sebutan Subway.
    Karakteristik Subway yang saya lihat antara lain adalah, bentuknya simple, jaringannya lumayan banyak, dan tempatnya ada di bawah tanah. Dan secara gampang bisa dihubungkan dengan kehidupan masyarakat Amerika Serikat yang (bisa dibilang cukup) sederhana, blak-blakan, sangat beragam masyarakatnya, namun kadang juga banyak hal yang mereka lakukan yang tidak dapat kita lihat dari permukaan.

    Selain moda transportasi umum, Amerika Serikat juga terkenal dengan karakteristik mobil produksinya. Besar, berisik, bertenaga besar, banyak hiasannya (bling-bling), dan kadang susah belok. Contohnya Cadillac Escalade (besar), Camaro dan Mustang (cepat, bertenaga besar, dan kadang susah belok). Kurang lebih mirip dengan stereotip masyarakat Amerika Serikat yang besar, berisik, bertenaga besar, banyak hiasannya, dan susah belok (?).

    Mustang – Camaro

  3. Inggris
    Inggris juga sebenarnya tidak memiliki moda transportasi khusus yang dapat dibilang menjadi karakteristiknya, namun Inggris merupakan inovator salah satu moda transportasi masal paling efektif di dunia. Kereta api. Memang bangsa Inggris yang pertama kali menemukan konsep transportasi menggunakan rel di dunia dan mengembangkan jaringan rel lokomotif uap pertama di dunia pada tahun 1804. Karakteristik kereta api uap yang dapat saya lihat disini (sedikit terpengaruh dari beberapa tayangan seperti Top Gear dan majalah kereta klasik), adalah moda transportasi yang mewah, klasik, dan berkelas. Memang hal ini juga bisa menjadi cerminan masyarakat Inggris yang stereotipnya adalah berkelas.

  4. Jerman
    Jerman, sebagai negara Eropa juga, tidak begitu memiliki moda transportasi masal khusus. Namun moda transportasi yang menurut saya menjadi ciri khas Jerman adalah mobil produksi dari negara tersebut. Nama seperti BWM dan Mercedes-Benz adalah contoh mobil produksi Jerman yang memang terkenal di seluruh dunia. Mobil yang pada umumnya dipakai oleh kalangan bisnis, eksekutif, pejabat teras, dan terkadang mafia, memiliki karakteristik mewah, tangguh, berwibawa, memiliki harga diri tinggi, dan nampaknya tidak memiliki selera humor sedikitpun. Nampaknya cukup sulit membayangkan pemilik BMW dan Mercedez-Benz untuk duduk dan bercanda. Dan jikalaupun bisa, nampaknya selara humor mereka adalah selera humor kelas bapak-bapak pejabat. (Ngerti lah ya maksudnya).
    Dari karakteristik mobilnya ini, maka dapat dilihat karakteristik masyarakatnya juga. Masyarakat yang tangguh, berwibawa, memiliki harga diri tinggi, dan nampaknya tidak memiliki selera humor yang baik.

    BMW M5 – Mercedes Benz E63

  5. Indonesia
    Negara kita yang tercinta, Indonesia. Moda transportasi di Indonesia yang akan saya bahas adalah tentang angkot. Dan karena saya sudah cukup sering menggunakan transportasi umum berupa angkot (maupun Transjakarta kalau untuk di Jakarta) di Jakarta, Bandung, dan Medan, maka saya akan membahas karakteristik kora dan penduduk kota tersebut berdasar karakteristik angkutan umumnya.

    Bandung
    Angkot (singkatan dari Angkutan Kota), nampaknya adalah salah satu moda transportasi umum yang paling populer di Bandung dan yang paling sering saya gunakan. Angkot di kota Bandung diklasifikasikan berdasarkan nama trayeknya, seperti Kalapa-Dago, Cicaheum-Ciroyom, dan Cisitu-Tegallega. Angkot di Bandung memiliki kapasitas sekitar 14 orang (termasuk supir), dan biasanya beroperasi sejak sekitar pukul 6 pagi hingga 10 malam (beberapa trayek beroperasi 24 jam). Selama 6 tahun tinggal di Bandung, dan hampir tiap hari naik angkot, saya dapat menilai beberapa karakteristik angkot di kota Bandung. Diantaranya adalah cukup lambat, sering ngetem, dan sering berhenti walau tidak ada yang memanggil atau meminta untuk berhenti. Itupun berhenti di badan jalan, sehingga cukup menghalangi alur lalu lintas.
    Dari karakteristik ini, jika diharuskan menarik kesimpulan mengenai karakteristik masyarakat di kota Bandung, maka… Silakan disimpulkan sendiri. hohoho…

    Medan
    Medan, adalah kota terbesar ketiga di Indonesia, baik dari luas wilayah maupun jumlah penduduknya. Namun entah kenapa di Wikipedia di Indonesia, tertulis bahwa Bandung adalah kota terbesar ketiga di Indonesia walau luas wilayahnya dan jumlah penduduknya lebih kecil daripada Medan dan Makassar. Ya sudahlah. Moda transportasi umum yang cukup populer di Medan adalah kereta api, angkot, dan becak bermotor. Dan untuk perbandingan dengan Bandung, maka saya akan membahas tentang angkot di kota Medan.
    Angkot di kota Medan diklasifikasikan berdasar nomor trayeknya dan bukannya jalur trayeknya, seperti 34 (tujuan Amplas – Kampung Lalang) dan 01 (Amplas – Pusat Pasar). Kapasitas angkot di Medan lebih besar daripada di Bandung, karena dapat menampung 19 orang termasuk supir. Dan sejak SMP hingga lulus SMA di kota Medan, saya hampir setiap hari naik angkot sehingga dapat menilai beberapa karakteristik angkot di kota Medan. Dan salah satu karakteristik yang sangat membedakan angkot kota Bandung dan Medan adalah kecepatannya. Angkot di Medan hampir tidak pernah ngetem dan cukup terbiasa untuk kebut-kebutan dengan angkot lainnya, bahkan saling senggol jika diperlukan. Namun mereka juga cukup toleran untuk tidak saling mengambil penumpang. Cukup mirip dengan karakteristik orang Medan, yang terkenal cukup blak-blakan, tidak ragu untuk saling senggol (mungkin bacok malah), dan juga bisa dibilang cukup toleran.

    Jakarta
    Sebagai ibukota negara, moda transportasi umum (semi) masal di Jakarta sebenarnya cukup banyak, dari angkot, mikrolet, metromini, kopaja, bus, hingga Transjakarta. Dan sebagai moda transportasi umum (semi) masal, mereka memiliki karakteristik masing-masing. Selain Transjakarta, karakteristik sebagian armadanya antara lain adalah tidak layak jalan namun dipaksakan jalan, tidak teratur, ugal-ugalan, dan tidak terawat, sehingga tidak sedikit masyarakat yang merasa tidak nyaman saat menggunakan moda transportasi tersebut. Untuk Transjakarta, masyarakat mengharapkan sesuatu yang lebih baik secara umum dari moda transportasi umum lain, yang lebih nyaman, lebih terawat, serta lebih terpercaya dan tepat waktu. Namun pada kenyataannya, Transjakarta juga tidak lepas dari berbagai karakteristik seperti kurang bersih, kurang terawat, dan terkadang sangat tidak tepat waktu. Sehingga tidak sedikit juga masyarakat di Jakarta dan Indonesia pada umumnya yang tidak terlalu percaya dengan moda transportasi umum dan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi sebagai moda transportasi mereka.

    Angkot Dago – Riung Bandung

    Jika digambarkan demikian, masyarakat di Jakarta (mungkin di Indonesia secara umum) bukan hanya tidak percaya kepada moda transportasi umum, namun juga kepada perwakilan di pemerintahan, dan saat ada secercah harapan bahwa keadaan akan menjadi lebih baik, maka mereka akan segera berpindah dan berpegang pada harapan tersebut. Namun apakah benar harapan tersebut bisa terus dipegang dan tidak akan mengecewakan masyarakat Jakarta dan Indonesia pada umumnya?