Tags

, ,

What kind of monster are you?”
The Wolverine

Dialog tersebut sudah cukup menunjukkan seberapa bad ass si Wolverine ini. Tulang dari adamantium, punya cakar tajam yang keluar dari kedua tangannya, dan bisa menyembuhkan diri dari efek ledakan bom atom! Dan brewoknya parah! Tuh! Kurang sangar apa coba!?

Pada film kedua yang berfokus pada tokoh ini (setelah film tentang asal usul Wolverine di “X-Men Origins: Wolverine”), kembali ditunjukkan sisi kemanusiaan Wolverine yang selalu memiliki konflik dengan dirinya sendiri. Di satu sisi dia selalu merasa tertekan karena menjadi mutan dan menyesal karena membunuh orang yang disayanginya, Jean Grey, dan merasa hendak mengakhiri kemampuannya untuk menyembuhkan diri dan tidak bertambah tua, namun di sisi lain, dia juga masih menyukai kekuatannya karena dengan hal tersebut dia dapat berjuang untuk melindungi alasannya untuk hidup – orang yang disayanginya. Alasan yang lebih besar dari kehidupannya sendiri – atau kematiannya sendiri dalam hal ini.

Dikisahkan Wolverine kali ini dipanggil untuk menemui kenalan lamanya, Yashida, dari Jepang sejak masa Perang Dunia 2 di Jepang pada masa kini. Yashida yang diselamatkannya dari ledakan bom atom di Nagasaki kini menjadi salah satu orang paling berpengaruh di Jepang dan sedang berada di ambang kematian. Wolverine setuju untuk menemui Yashida, setelah ditawarkan apa yang menjadi hal yang paling dicarinya selama ini, kematian yang layak dan terhormat.

Sesampainya di Jepang, Wolverine masuk ke dalam konflik internal keluarga Yashida, antara Shingen (anak Yashida), dan Mariko (cucu Yashida). Disini Wolverine kembali dihadapkan dengan konflik batin di dalam dirinya. Menerima tawaran kematian yang layak dan terhormat dari Yashida, atau tetap mempertahankan kekuatannya untuk melindungi Mariko (yap, lagi-lagi alasannya wanita).

Kisah yang disampaikan pada film Wolverine kali ini memang terasa seperti selingan semata, karena awal dan akhirnya Wolverine tetaplah orang yang sama, dengan amarah yang meluap-luap, brewok, dan masih suka berkata “go f*ck yourself“.

Terlepas dari kisahnya, film The Wolverine ini cukup menarik menampilkan konflik batin yang dialami Wolverine, hubungannya dengan dirinya sendiri, dan hubungannya dengan Jean Grey. Mengambil lokasi di Jepang, tentunya muncul peran wanita pendukung dari Jepang, dan di film ini, terdapat 2 wanita Jepang yang menjadi tokoh pendukung (alih-alih 1 orang seperti di Pacific Rim). Tao Okamoto sebagai Mariko, dan Rila Fukushima sebagai Yukio. Keduanya menampilkan karakter yang tidak kalah kuat dengan Wolverine, namun entah kenapa, menurut selera saya pribadi, Yukio dan karakternya tampak lebih menonjol dibandingkan Mariko. Dan dibandingkan keduanya, Rinko Kikuchi sebagai Mako Mori di Pacific Rim masih memiliki karakter yang lebih kuat dan menonjol.

Rating secara keseluruhan: 7/10.

The Wolverine – Yukio