Tadi siang, saat sedang dalam perjalanan dari kosan menuju suatu toko buku, terpikirkan suatu pertanyaan. Kapan sebenarnya waktu berkendara yang paling bahaya (dan paling bikin stress) di Indonesia ini?

Ada yang berkata pada saat musim hujan, di malam hari, karena jarak pandang terbatas, jalanan licin, dan lain-lain. Atau pada saat mudik lebaran, karena orang-orang kayaknya sangat terburu-buru mau pulang ke..kemanapun mereka mau pulang.

Menurut saya pribadi, waktu itu bisa jadi adalah saat ini. Bulan puasa. Lebih spesifik lagi adalah sekitar 60-30 menit sebelum waktu berbuka puasa. Kenapa? Karena sekitar jam tersebut adalah kombinasi antara lapar (seharian puasa), menahan sabar seharian (karena puasa), jalanan ramai (pulang kantor), dan iming-iming makanan berbuka puasa.
Kombinasikan semuanya, dan yang didapat adalah agresivitas yang cukup buas. Hampir setiap orang merasa mereka perlu bergegas untuk sampai ke tujuan mereka, terkadang sambil membunyikan klakson, dan menyerobot lalu lintas seenaknya, entah apa alasannya sebenarnya. Dan digabungkan dengan rendahnya tingkat gula darah pada pengendara lainnya, maka hampir setiap pengendara sedikit banyaknya pernah merasa frustasi bahkan mungkin stress dengan keadaan lalu lintas ini.

Dan nampaknya hal ini terjadi di hampir setiap kota di Indonesia, terutama di kota-kota besar di sekitaran jalan-jalan utama di kota tersebut. Kenapa kota besar? Karena ada yang berkata bahwa kota besar adalah tempat berkumpulnya banyak manusia untuk tidak peduli satu dengan yang lainnya. Ditambah keadaan perut lapar, lelah kerja, dan iming-iming makanan, maka yang dipedulikan sebagian orang pada saat itu hanyalah dirinya sendiri. Tepatnya perutnya sendiri.

Mungkin.