Salam,

Menurut saya, sebenarnya sudah cukup banyak juga yang membahas ini. Tentang mental orang Indonesia, yang mudah diinjak, atau mudah diperbudak, atau mungkin ada yang menyebutnya dengan minder, atau mental inlander, bahkan salah satu negara menyebut rakyat Indonesia dengan mental seperti ini dengan sebutan ‘Indon’, yang menurut saya pribadi, agak terkesan merendahkan.

Mari kita bahas.

Sebagian rakyat Indonesia itu, entah kenapa, menurut pandangan saya pribadi, memang memiliki mental mudah diremehkan. Apakah karena minder dan merasa dirinya lebih rendah dari orang lain, atau sekedar malu, malas, ataupun tidak mau menyampaikan pendapatnya kepada orang lain, sehingga dapat berlaku karena tidak ada protes atau teguran sama sekali.

Mari mengantri. (Foto: sosbud.kompasiana.com)

Contohnya, menyerobot antrian. Hal ini entah kenapa nampaknya sudah sangat biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia. Orang yang baru saja datang, kemudian seenaknya berdiri di depan Anda, saat Anda sudah beberapa lama berdiri menunggu dalam jalur dengan sabar. Menurut logika saya pribadi, saya memiliki hak untuk dilayani terlebih dahulu oleh pihak yang berada di ujung antrian, dibandingkan orang yang baru datang tersebut. Dalam kasus orang Indonesia pada umumnya (teman saya baru mengalaminya beberapa hari yang lalu saat antri untuk memesan makanan dan ada seseorang yang menyerobot antrian dan langsung berdiri di depannya), sebagian malah menahan diri untuk tidak menegur orang – atau pihak – yang menyerobot antrian tersebut. Entah kenapa. Padahal menurut logika saya pribadi, saat itu hak Anda telah diinjak-injak dan dirampas oleh pihak yang merebut antrian Anda tersebut. Dan saat saya bertanya kepada teman saya mengapa dia tidak menegur orang tersebut, dia berkata dia malas untuk tidak mencari keributan dengan orang lain.

Hah!? Keributan? Memangnya dengan menegur seseorang yang merampas hak Anda, maka akan terjadi keributan? Logika yang aneh.
Dan sebenarnya saya juga bukannya tidak bisa mengerti mengapa dia memilih seperti itu.

Mungkin Anda pernah juga membaca beberapa waktu yang lalu, saat salah seorang Menteri di Republik Indonesia, sebut saja seorang Pakar Telematika, Menteri Pemuda dan Olahraga, yang menjadi pusat perhatian karena dia merasa berhak semena-mena di dalam sebuah pesawat dan tidak memperdulikan hak orang lain. Hal itu adalah contoh dimana hak seseorang dirampas, kemudian diinjak-injak, dan sang korban merasa berhak untuk protes. Dan apa yang terjadi? Si perampas kembali protes dan merasa dia yang paling benar.

Yap. Di Indonesia memang banyak yang seperti itu. Tidak usah kita melihat jajaran menteri. Lihat sekeliling Anda di kehidupan sehari-hari. Apakah semua orang sudah antri dengan tertib? Apakah semua orang sudah menghargai hak orang lain dan tidak semena-mena merebutnya?

Terdapat beberapa alasan mengapa hal seperti ini banyak terjadi di Indonesia, dan menurut saya pribadi, salah satunya berkaitan dengan mental orang Indonesia yang permisif sehingga mudah diinjak-injak. Keadaan ini dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk melakukan hal semena-mena karena mengetahui sifat secara umum sebagian rakyat Indonesia ini. Bahkan beberapa menyampaikan ‘Biar saja, yang waras ngalah’ saat hak dia direbut.

Hah!? Yang waras ngalah? Oh maksudnya yang merebut hak itu adalah orang yang tidak waras. Masuk akal. Tapi, apa yang terjadi saat orang yang tidak waras itu tidak ditegur? Menurut pendapat saya pribadi, dia akan merasa bahwa hal yang dilakukannya adalah hal yang benar, hal yang tidak salah, hal yang wajar, hal yang waras, karena tidak ada seorang pun yang menegurnya saat melakukan hal itu. Saat dia semakin terbiasa tidak ditegur, maka dalam logikanya akan terbentuk bahwa yang dilakukannya adalah yang benar (dan dalam beberapa kasus ekstrem, sebut saja kasus Menpora, dia merasa bahwa yang dilakukannya SELALU benar).

Hal ini sama saja seperti kelakuan seorang anak kecil yang nakal. Saat dia melakukan suatu kenakalan, dan tidak mendapat teguran atau hukuman, tentunya dia akan melakukannya lagi, dan barangkali akan melakukan kenakalan yang lebih lagi karena dia merasa tidak masalah melakukan hal tersebut. Keadaan seperti ini, saat dilihat oleh orang yang tidak mengenal anak itu, terkadang akan berkata ‘ih, itu anak gak diajarin sama orang tuanya ya?’. Siapa yang disalahkan? Orang tua anak tersebut. Kenapa? Karena dia membiarkan anak tersebut melakukan kenakalan, dan tidak ditegur, sehingga dia terus melakukan kenakalan dan bahkan yang lebih besar.

Merasa mirip dengan kasus menyerobot antrian? Siapa yang seharusnya disalahkan? Entahlah. Mungkin petugas yang berada di dekat tempat kejadian, ataupun orang yang antriannya diserobot. Kenapa? Sama seperti kasus anak kecil nakal, karena mereka adalah pihak yang membiarkan hal memalukan dan salah itu terjadi di depan mata mereka tanpa tindakan apapun. Ya. Korban yang dirampas haknya adalah pihak yang paling patut disalahkan dalam hal ini menurut pandangan saya pribadi. Mungkin sebagian rakyat Indonesia tidak mau menegur dengan alasan yang sama dengan teman saya tadi, malas membuat keribudan dan jadi pusat perhatian. Wajar. Sebab saya juga pernah mengalaminya, saat antri check-in di bandara, dan ada yang menyerobot antrian saya. Secara refleks saya menegur pihak tersebut, dan dia serta penumpang lain yang juga antri di dekat saya melihat saya dengan tatapan seakan-akan saya melakukan suatu hal yang aneh. Tidak enak memang.

(foto: hanitje.blogspot.com)

Apakah kita orang Indonesia memang memiliki mental minder, permisif, yang mudah diinjak-injak, bahkan oleh bangsa kita sendiri?

Salam.