Salam,

Jakarta, baru saja merayakan hari jadinya yang ke 486 pada tanggal 22 Juni 2013 yang lalu. Pada tanggal itu pun, diselenggarakan banyak sekali kegiatan dalam berbagai skala di Jakarta. Sebut saja ‘Malam Muda Mudi’ yang kembali ‘dihidupkan’ oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas kebijakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, untuk memperingati hari jadi kota Jakarta.

‘Malam Muda Mudi’ sebelumnya juga pernah digelar di kota yang sama, pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin. Dalam kegiatan yang diadakan itu, para muda-mudi di Jakarta diajak untuk turun ke jalan dalam suasana festival untuk merayakan hari jadi ibu kota Indonesia tersebut. Dan kali ini, Joko Widodo kembali menghidupkan perayaan untuk rakyat Jakarta menikmati Jakarta di hari ulang tahunnya dengan suguhan dari Pemerintah Provinsi.

Selain Malam Muda Mudi, tentu saja juga diadakan yang namanya Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair, di kawasan JIExpo. PRJ dapat dibilang telah menjadi agenda wajib dalam perayaan ulang tahun kota Jakarta, yang diadakan selama sekitar 1 bulan penuh, untuk tahun ini dimulai pada tanggal 6 Juni hingga 7 Juli 2013. Selain PRJ di kawasan JIExpo, ternyata Joko Widodo juga menyelenggarakan PRJ lainnya di kawasan Monumen Nasional (Monas), dimana PRJ disini adalah singkatan dari Pesta Rakyat Jakarta. Pesta Rakyat Jakarta ini, awalnya bertujuan agar pada pedagang skala mikro dan rumahan dapat mendapat tempat untuk usaha, dikarenakan mereka tidak mendapat tempat di PRJ Kemayoran. Selain itu, seluruh kegiatan di PRJ Monas ini mulai dari pameran hingga pertunjukan dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung tanpa dipungut biaya apapun.

Saya sungguh tertarik dan kagum dengan kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini, yang dipimpin oleh Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama (Ahok). Mungkin memang kemacetan belum dapat diatasi sepenuhnya dan banjir masih tetap mengintai ibukota negara ini, namun setidaknya dalam momen perayaan ulang tahunnya, Jakarta kini dapat dinikmati lebih lagi oleh masyarakatnya yang datang dari berbagai kalangan. PRJ Kemayoran yang difokuskan untuk ajang bisnis dan pameran, dapat menarik pengunjung kelas mengengah atas, PRJ Monas dapat menarik pengunjung kelas menengah bawah, dan Malam Muda Mudi memanjakan penduduk kota Jakarta dari berbagai kalangan, dengan adanya 8 panggung hiburan di sepanjang jalan M.H.Thamrin dan Sudirman yang menyajikan berbagai jenis hiburan musik, dari Rock, Pop, hingga Keroncong.

Pertunjukan musikal ‘Ariah’ dengan Monas sebagai latar belakang. (Foto: Antara)

Hari ulang tahun Jakarta memang sudah lewat, namun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih menyisakan setidaknya 1 lagi acara untuk memanjakan masyarakat Jakarta. Adalah ‘Ariah’, pertunjukan drama musikal yang menggambarkan perjuangan seorang wanita Betawi saat melawan penjajah Belanda pada akhir tahun 1800an. Pertunjukan drama musikal ini digelar dengan panggung megah dengan sudut elevasi tertentu, dan melibatkan ratusan penari, pemusik, dan tim kreatif lainnya. Pertunjukan ini diarahkan oleh Atilah Soeryadjaya bekerja sama dengan Jay Subiakto dan Erwin Gutawa. Pertunjukan yang digelar pada tanggal 28 – 30 Juni 2013 di Monas ini merupakan inisiatif dari Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, untuk memberikan tontonan kelas dunia bagi seluruh rakyat Jakarta. Dan yang dimaksud dengan rakyat, adalah rakyat dari berbagai kalangan, sebab tiket termurah untuk pertunjukan ini adalah kelas rakyat yang dijual dengan harga Rp 2.000,- saja. Dengan harga yang demikian murah, warga dapat menonton pertunjukan kelas dunia, dan sebagian dari mereka mendapatkan lebih, sebab Jokowi juga duduk lesehan di antara penonton kelas rakyat ini.

Sangat menakjubkan.
Saya hanya berharap semoga semakin banyak kegiatan sejenis, yang diadakan bukan hanya di Jakarta, tapi juga di kota lain di Indonesia. Untuk semakin mendukung majunya perekonomian rakyat kecil, serta memberi kegiatan yang lebih berkualitas untuk dilakukan oleh rakyat Indonesia, daripada sekedar mengunjungi pusat perbelanjaan.

Salam,